Ini tentang pertanyaan yang sering muncul di benak mereka yang baru belajar pemrograman web. Server-side scripting mana yang paling baik untuk pemrograman web? Apa PHP, ASP, atau alternatif lain (perl, misalnya)? Saya sering mendapat pertanyaan semacam itu, baik dari pengunjung web ini maupun dari teman-teman di darat.
Saat ini, saya memang masih stuck dengan PHP sebagai server-side scripting andalan, walaupun pernah juga pengalaman dengan Perl (termasuk via Slashdot untuk sebuah portal yang sekarang sudah almarhum). Untuk ASP, biarpun sudah belajar tapi masih belum sempat mempraktekkan di lapangan (Anyway, saya bukan web developer profesional!). Dengan latar belakang semacam ini, saya jelas tidak cukup kompeten untuk merekomendasikan mana yang paling baik diantara berbagai alternatif yang tersedia. So, baiknya kesempatan kali ini kita pakai untuk sedikit mengulas soal server-side scripting (juga dikenal sebagai web scripting), tanpa perlu mempromosikan satupun diantaranya.
Pertama-tama, apa sih server-side scripting itu? Ringkasnya begini, kalau kita mengakses sebuah halaman web, itu artinya bahwa kita memanggil sebuah dokumen web dalam format HTML yang tersimpan dalam sebuah webserver. Dokumen web ini umumnya bersifat statis, artinya dokumen itu tidak mengandung komponen yang bisa berubah-ubah dalam kondisi tertentu. Untuk membuat sebuah dokumen HTML terlihat lebih dinamis, maka dibuatlah bahasa pemrograman khusus yang disebut web scripting. Menurut sifatnya, web scripting dibagi menjadi yang berbasis client (client-side) dan yang berbasis server (server-side).
Web scripting berbasis client melakukan operasinya di komputer client, artinya seluruh kode sumber (source-code) akan ikut di download bersama dokumen web bersangkutan, dan selanjutnya, pengolahan script menjadi bentuk keluaran (output) akan dilakukan disisi komputer client. Contoh dari sebuah web scripting berbasis client adalah JavaScript. Sebaliknya, pada web scripting berbasis server, pengolahan script akan dilakukan di server. Server kemudian mengirimkan hasil keluaran (output) berupa halaman web dalam format HTML standar tanpa menyertakan script penyusunnya ke komputer client.
Dibandingkan dengan client-side scripting, server-side scripting tergolong ideal untuk membuat situs web yang dinamis, termasuk mengkombinasikannya dengan database atau fungsi-fungsi eksternal lainnya. Halaman web yang disususun dengan server-side scripting umumnya berukuran kecil karena komponen-komponen penyusunnya tidak ikut didownload. Penggunaan resource di sisi client juga jadi lebih sedikit. Karena kode sumber untuk server-side scripting tersimpan di server, maka keamanannya menjadi lebih terjamin karena tidak dapat diintip atau dicontek oleh pihak lain selain dari yang memiliki akses ke server yang menyimpannya.
Saat ini, saya memang masih stuck dengan PHP sebagai server-side scripting andalan, walaupun pernah juga pengalaman dengan Perl (termasuk via Slashdot untuk sebuah portal yang sekarang sudah almarhum). Untuk ASP, biarpun sudah belajar tapi masih belum sempat mempraktekkan di lapangan (Anyway, saya bukan web developer profesional!). Dengan latar belakang semacam ini, saya jelas tidak cukup kompeten untuk merekomendasikan mana yang paling baik diantara berbagai alternatif yang tersedia. So, baiknya kesempatan kali ini kita pakai untuk sedikit mengulas soal server-side scripting (juga dikenal sebagai web scripting), tanpa perlu mempromosikan satupun diantaranya.
Pertama-tama, apa sih server-side scripting itu? Ringkasnya begini, kalau kita mengakses sebuah halaman web, itu artinya bahwa kita memanggil sebuah dokumen web dalam format HTML yang tersimpan dalam sebuah webserver. Dokumen web ini umumnya bersifat statis, artinya dokumen itu tidak mengandung komponen yang bisa berubah-ubah dalam kondisi tertentu. Untuk membuat sebuah dokumen HTML terlihat lebih dinamis, maka dibuatlah bahasa pemrograman khusus yang disebut web scripting. Menurut sifatnya, web scripting dibagi menjadi yang berbasis client (client-side) dan yang berbasis server (server-side).
Web scripting berbasis client melakukan operasinya di komputer client, artinya seluruh kode sumber (source-code) akan ikut di download bersama dokumen web bersangkutan, dan selanjutnya, pengolahan script menjadi bentuk keluaran (output) akan dilakukan disisi komputer client. Contoh dari sebuah web scripting berbasis client adalah JavaScript. Sebaliknya, pada web scripting berbasis server, pengolahan script akan dilakukan di server. Server kemudian mengirimkan hasil keluaran (output) berupa halaman web dalam format HTML standar tanpa menyertakan script penyusunnya ke komputer client.
Dibandingkan dengan client-side scripting, server-side scripting tergolong ideal untuk membuat situs web yang dinamis, termasuk mengkombinasikannya dengan database atau fungsi-fungsi eksternal lainnya. Halaman web yang disususun dengan server-side scripting umumnya berukuran kecil karena komponen-komponen penyusunnya tidak ikut didownload. Penggunaan resource di sisi client juga jadi lebih sedikit. Karena kode sumber untuk server-side scripting tersimpan di server, maka keamanannya menjadi lebih terjamin karena tidak dapat diintip atau dicontek oleh pihak lain selain dari yang memiliki akses ke server yang menyimpannya.
